Selasa, 13 Desember 2011

Jembatan Kutai Kartanegara

Siang hari ini ada sebuah jembatan yang baru saja saya lalui terasa sangat panas sekali sehingga membuat saya teringat jembatan Kutai Kartanegara. Sebuah jembatan yang beberapa waktu lalu putus (runtuh) dan telah menelan korban jiwa.
Hari ini adalah hari ke-9 bulan Desember 2011, kebetulan juga diperingati sebagai hari anti korupsi. Tatkala berbicara mengenai ‘anti korupsi’ ini tak pelak sayapun kembali teringat pada sosok Bang Amir Husin Daulay, yaitu sosok yang saya anggap sebagai pelopor anti korupsi Negeri ini. Apalagi berbarengan dengan  hari ini pula  Bang Amir Husin Daulay  memperingati hari jadinya. Terucap “Selamat ulang-tahun” untuk Bang Amir, dan isi tulisan ini semoga bisa menjadi bagian kado yang bisa Bang Amir terima.
***
Limabelas hari lalu, tepatnya sore hari pukul 16.20 waktu setempat, tanggal 26 November 2011  kita semua tahu, bahkan bukan saja kita warga negeri ini, masyarakat dunia juga menyaksikan runtuhnya sebuah jembatan yang menghubungkan antara kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang.
.
Jembatan Kuker (Kutai Kartanegara)
Jembatan Kutai Kartanegara merupakan jembatan kedua yang dibangun melintasi Sungai Mahakam setelah Jembatan Mahakam di Samarinda sehingga juga disebut Jembatan Mahakam II. Jembatan ini dibangun menyerupai Jembatan Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Pembangunan jembatan ini dimulai pada tahun 1995 dan selesai pada 2001 dengan kontraktor PT Hutama Karya yang menangani proyek pembangunan jembatan tersebut.
Saat diresmikan, jembatan ini dinamai Jembatan Gerbang Dayaku yang diambil dari slogan pembangunan gagasan bupati Kutai Kartanegara saat itu,  Syaukani Hasan Rais. Sejak Syaukani tidak menjabat lagi sebagai bupati, jembatan ini diganti namanya menjadi Jembatan Kutai Kartanegara ing Martadipura atau Jembatan Kartanegara.
Jembatan ini juga merupakan akses menuju Samarinda ataupun sebaliknya yang dapat ditempuh hanya sekitar 30 menit. Melewati Jembatan Gerbang Dayaku Kutai Kartanegara ada pemandangan menarik yang dapat disaksikan, yaitu hamparan sebuah pulau kecil yang memisahkan Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong Seberang, yaitu Pulau Kumala, sebuah pulau yang telah disulap menjadi Kawasan Wisata Rekreasi yang banyak diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Di kawasan Jembatan Kutai Kartanegara juga terdapat Jam Bentong yang merupakan sebuah tugu yang terdapat taman-taman yang terlihat asri dan indah jika dilihat dari atas jembatan. Di dekat jembatan dibangun sarana olahraga panjat dinding sebanyak 2 buah. Kawasan ini setiap sorenya selalu dipenuhi oleh pengunjung yang dapat menikmati keindahan Jembatan Kutai Kartanegara serta memandang Pulau Kumala dari kejauhan [wikipedia].
Menurut informasi yang saya ketahui, salah satunya  sebagaimana yang tertulis diatas, bersumber dari wikipedia, jembatan Kukar (Kutai Kartanegara)ini baru berumur kurang lebih 10 tahun.
Membaca paparan Mas Wikipedia, utamanya mengenai penyerupaan jembatan Kuker dengan jembatan Jembatan Golden Gate di San Fransisco, maka jika kita harus melihatnya dari sudut pandang kemegahan, tentu pembangunannya pun tak sedikit menghabiskan biaya.  Lalu pertanyaannya adalah; “Kenapa wujud jembatan yang terlihat megah ini baru dalam kurun waktu  10 tahun sudah mengalami kerusakan…? Padahal sedang tidak terjadi gempa, ataukah  keberadaan  lahan gambut disebagian dataran itu cukup kuat dijadikan sebagai alasan pembenaran atas keruntuhan jembatan Kutai Kartanegara itu…?”
Sudah barang tentu ada tanda tanya yang musti kita sematkan dibelakang kalimat tersebut.  Tanda tanya itu harus tersematkan lantaran yang bisa kita (saya) saksikan sebagai wong cilik  justru hanya bisa sebatas membandingkannya dengan jembatan sèsèk (wot).
Jembatan sèsèk  atau “wot”  adalah  jembatan yang   sering  terbuat atas swadaya, swadana, serta swasembada masyarakat . Jembatan  sèsèk berasal dari bambu. Jembatan ini masih banyak terdapat diperkampungan (Jawa)  demi  memenuhi infrastruktur yang belum terjamah secara permanen.
Saya membandingkan Jembatan Kutai Kartanegara dengan jembatan  sèsèk  pasalnya bahwa  wujud tak megahnya  jembatan  sèsèk  dengan dilalui setiap hari oleh orang-orang perkampungan  saja  terkadang  masih mampu bertahan lebih dari 10 tahun. Lalu berapa ribu kali lipat jembatan sèsèk kalau harus dibuat dengan anggaran  pembuatan jembatan Kukar (Kutai Kartanegara) tersebut..?
Sebagai wong cilik  yang awam segala macem urusan tètèk-mbengèk   anggaran pemerintahan, sejatinya hanya sesederhana itulah saya memikirkan pun membandingkannya. Tentu ada yang tida beres dalam mengenyam tali-temali, memasang patok, menyambungkan bilah demi terkontruksinya jembatan Kutai Kartanegara.  Namun masih sebagai wong cilik saya belum begitu mahfum, entah dimana letak ketidakberesannya.
.
Jembatan Sesek
Lain dari itu, yang saya tahu ikhwal ‘jembatan’ dibangun adalah demi menghubungkan antara wilayah satu dengan yang lainnya. Itulah fungsinya.
Tatkala menyimak tentang fungsi-guna sebuah jembatan yang sebagai alat penghubung  itu, tak pelak ingatan saya pun kembali  melayang pada  wejangan orang-orang tua terdahulu, utamanya  mengenai wejangan yang berujud sanépa. Yaitu wejangan yang disampaikan dengan wujud “perlambang”.  Diakhir wejangan berujud sanépa  itu ada hal yang pasti bisa kita petik  diakhirnya  yaitu  adalah sebuah tanda (sasmita).
Nah kembali pada ikhwal “jembatan”,   atau kreteg  dalam bahasa Jawanya, memiliki  fungsi   sebagai penghubung, perantara, bisa kita maknai dalam kehidupan ini. Makelar, brokker, dan kata padanan lainnya.
Kalau kita mau menguak, sejatinya ini juga mengisyaratkan pada kita semua  bahwa sesuai wejangan para tetua ‘ngèlmu Jawa’, runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara sudah semestinya juga bisa  dianggap sebagai sasmita pun tanda pengingat pada semua anak negeri ini. Memberikan perlambang  bahwa jika pada saat  pembangunan sebuah jembatan itu ada ketidakberesan, maka yang akan terjadi adalah juga ketidaklamaan jembatan itu berdiri (meskipun terlihat megah). Begitu juga pada manusianya,  tatkala banyak anak negeri ini berprofesi sebagai  makelar, perantara, penghubung, pun broker  pada hal (kasus) yang tidak baik, maka tak lama lagi tunggulah keruntuhannya. Mungkin inilah salah-satu yang bisa dilihat kalau kita menyaksikannya  dari sudut-pandang  inti philosophy.
Masih dalam sasmita yang sudah bisa kita saksikan kebenarannya  juga, bahwa akan lebih langgeng   sosok  jembatan sèsèk (wot) karena didasari atas kesederhanaan, kebersamaan, pun kejujuran. Kalau memang harus terdiri dari enam patok bambu ya tetap dibangun dengan wujud enam patok bambu, bukan lima atau empat patok saja.
Melihat sasmita ini, bukan keinginan saya untuk  menyampaikan pesan yang bersifat   primordialis   karena mengandung  aroma ke_Jawa-Jawa’an. Sama sekali bukan hal itu yang ada dibenak. Lain dari itu, berawal dari wejangan tersebut terusterang   justru saya masih tetap berkeinginan membeberkan beberapa pertanyaan  kepada semuanya tak sebatas masyarakat Jawa saja, bahkan lebih luas dari masyarakat Indonesia jika sekiranya bisa.  Tepatnya kepada para makelar, para penghubung, para perantara pun kaum broker serta  pada para  penyelenggara negeri yang saya rasa juga turut serta dalam pembangunan jembatan itu.
“Sudahkah Anda-Anda semua Yang terhormat ini belajar dari pendidikan para leluhur kita…? Ataukah justru otak kalian sudah terbungkus  bahan-bahan pembangun  jembatan itu…?”  “Tidakkah cukup pemberian  pelajaran tentang ilmu  kesederhanaan, jiwa kebersamaan, pun laku kejujuran para  pembangun jembatan sèsèk (wot) itu..?” [uth]



copas DARI SUMBERNYA : http://ikanmasteri.com/archives/3082

Tidak ada komentar:

Posting Komentar